Semoga blog ini berguna untuk semua pembaca, khusunya yang berkecimpung di bidang trading option.
Catatan harian trading pribadi dan MT DR-Traders8888
Semoga blog ini berguna untuk semua pembaca, khusunya yang berkecimpung di bidang trading option.
Salah satu tantangan terberat bagi trader adalah menemukan harga entry yang bagus untuk masuk ke market. Untuk hal ini, alat bantu (tools) yang bisa digunakan untuk menemukan level entry yang bagus adalah pivot point. Artikel ini akan mengulas apa itu pivot point dan bagaimana cara menggunakannya untuk menemukan harga entry saat trading forex.
Pivot point menggambarkan level harga yang digunakan oleh para floor trader untuk menentukan arah pergerakan atau level harga yang berpotensi sebagai support/resistance. Pivot point awalnya diciptakan oleh floor trader untuk menandai level kunci support dan resistance berdasarkan harga tertinggi (high), harga terendah (low) dan harga penutupan (close). Pivot point menjadi populer ketika para floor trader ini mulai menggunakannya.
Pivot point adalah level harga yang menunjukkan area potensi harga akan berbalik atau reversal. Pivot point termasuk indikator yang akurat, karena sebagian besar trader mengawasi atau memperhatikan level pivot. Banyak trader jangka pendek seperti intraday trader atau daytrader menggunakan pivot point sebagai acuan trading.
Ketika
trading dengan pivot point, aturannya hampir mirip seperti saat
menggunakan support dan resistance. Trader jangka pendek akan mengawasi
pivot point harian karena dianggap sebagai level kunci atau key level dalam time frame intraday.
Perhitungan pivot point standar cukup mudah. Perhitungannya hanya membutuhkan tiga hal, yaitu harga penutupan (close price), harga tertinggi (high) dan harga terendah (low).
Pertama-tama, kita menghitung dulu pivot point (PP). Rumusnya adalah sebagai berikut:
Pivot point (PP) = (harga tertinggi + harga terendah + harga penutupan) / 3 atau (H + L + C) / 3
Setelah mendapatkah harga pivot (PP), selanjutnya menghitung pivot point atas sebagai resisten (R) dan pivot point bawah (S) sebagai support. Rincian rumus untuk S1, S2, S3, R1, R2 dan R3 sebagai berikut:
R3 = Harga tertinggi + 2 x (PP - harga terendah)
R2 = PP + (harga tertinggi - harga terendah)
R1 = (2 x PP) - harga terendahS1 = (2 x PP) - harga tertinggi
S2 = PP - (harga tertinggi - harga terendah)
S3 = harga terendah - 2 x (harga tertinggi - PP)
Ada lima (5) jenis pivot point, yaitu Pivot Point Standar, Pivot Point Woodie, Pivot Point Camarilla, Pivot Point Demark, dan Pivot Point Fibonacci. Di antaranya, tipe standar adalah yang paling populer dan banyak digunakan oleh para trader. Tapi, tak ada salahnya kita mengenal kelima jenis pivot point tersebut.
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, pivot point standar ini adalah jenis pivot point yang digunakan oleh floor trader. Harga pivot point (PP) menggambarkan nilai keseimbangan antara pembeli (buyer) dan penjual (seller) intraday, sekaligus merupakan harga yang biasanya terjadi dengan volume besar. Alasannya karena floor trader menggunakan PP sebagai level utama harian dan kebanyakan order yang ada di market diletakkan di antara PP dan level pertama (S1 dan R1).
Alasan utama kenapa pivot point bekerja dengan baik di grafik harga adalah karena banyak trader yang menggunakan level tersebut sebagai support dan resistance, sehingga akan melakukan trading ketika menyentuh level tersebut.
Pivot Point Woodie memberikan penambahan bobot tertentu ke harga penutupan terakhir (previouse close price). Penjelasan dibalik penggunakan pivot point jenis ini adalah fakta bahwa kebanyakan trader meyakini bawah harga tertinggi (high) dan harga terendah (low) harian merupakan gambaran emosi dari market, sedangkan harga pembukaan dan penutupan lebih tepat sebagai perwakilan sentimen market.
Rumus pivot point woodie:
Pivot point (PP) = (harga tertinggi + harga terendah + 2 x harga penutupan) / 4
R3 = Harga tertinggi + 2 x (PP - harga terendah)
R2 = PP + (harga tertinggi - harga terendah)
R1 = (2 x PP) - harga terendahS1 = (2 x PP) - harga tertinggi
S2 = PP - (harga tertinggi - harga terendah)
S3 = harga terendah - 2 x (harga tertinggi - PP)
Jadi, yang membedakan perhitungan Pivot Point Standar dengan Pivot Point Woodie adalah adanya pengalian dua dari harga penutupan untuk menentukan nilai pivot point-nya.
Pivot Point Camarilla dikembangkan pada tahun 1989 oleh Nick Stott. Nilai pivot point (PP) dihitung menggunakan rumus yang sama seperti pivot point standar, tetapi nilai level support dan resistance dihitung menggunakan besaran pengali tertentu. Konsep utama metode ini adalah secara alami pergerakan harga akan cenderung kembali ke level rata-ratanya atau dalam hal ini, harga penutupan hari sebelumnya.
Ada 8 level yang digunakan dalam pivot point jenis ini, yaitu 4 level resistance (R1, R2, R3, R4) dan 4 level support (S1, S2, S3, S4). Rumus Pivot Point Camarilla:
Pivot point (PP) = (harga tertinggi + harga terendah + harga penutupan) / 3 atau (H + L + C) / 3
R4 = harga penutupan + ((harga tertinggi - harga terendah) x 1.5000)
R3 = harga penutupan + ((harga tertinggi - harga terendah) x 1.2500)
R2 = harga penutupan + ((harga tertinggi - harga terendah) x 1.1666)
R1 = harga penutupan + ((harga tertinggi - harga terendah) x 1.0833)
S1 = harga penutupan - ((harga tertinggi - harga terendah) x 1.0833)
S2 = harga penutupan - ((harga tertinggi - harga terendah) x 1.1666)
S3 = harga penutupan - ((harga tertinggi - harga terendah) x 1.2500)
S4 = harga penutupan - ((harga tertinggi - harga terendah) x 1.5000)
Pivot Point Demark diperkenalkan pertama kali oleh Tom Demark. Pivot point jenis ini sangat berbeda dengan jenis pivot point lainnya dan hanya mempunyai satu level support dan resistance, yaitu S1 dan R1. Pivot point ini mempunyai kondisi alami antara harga pembukaan (open price) dan harga penutupan (close price). Demark menggunakan angka X untuk menghitung level resistance atas dan level support bawah.
Rumus Pivot Point Demark:
Jika harga penutupan > harga pembukaan, maka nilai X = (2 x harga tertinggi) + harga terendah + harga penutupan.
Jika harga penutupan < harga pembukaan, maka nilai X = harga tertinggi+ (2 x harga tertinggi) + harga penutupan.
Jika harga penutupan = harga pembukaan, maka nilai X = harga tertinggi + harga terendah + (2 x harga penutupan).Pivot point = X / 4
R1 = X / 2 - harga terendah
S1 = X /2 - harga tertinggi
Pivot Point Fibonacci menggunakan rumus yang sama seperti Pivot Point Standar. Perbedaannya terletak pada penentuan nilai support dan resistance yang dihitung menggunakan level retracement dan level ekstensi dari rentang pergerakan harga pada sesi sebelumnya. Rumus Pivot Point Fibonacci:
Pivot point (PP) = (harga tertinggi + harga terendah + harga penutupan) / 3 atau (H + L + C) / 3
R3 = PP + ((harga tertinggi - harga terendah) x 1.000)
R2 = PP + ((harga tertinggi - harga terendah) x 0.618)
R1 = PP + ((harga tertinggi - harga terendah) x 0.382)S1 = PP - ((harga tertinggi - harga terendah) x 0.382)
S2 = PP - ((harga tertinggi - harga terendah) x 0.618)
S3 = PP - ((harga tertinggi - harga terendah) x 1.000)
Pivot point merupakan salah satu indikator leading dan bisa menjadi acuan trader untuk entry market. Secara umum, pembacaan pivot point adalah sebagai berikut:
Anda bisa menambahkan pivot point ke dalam grafik menggunakan empat (4) cara, yaitu menghitung manual, menggunakan kalkulator pivot point, mengambil dari website yang menyediakan tabel nilai pivot point secara update, atau menggunakan indikator pivot point. Berikut ini penjelasannya:
Anda dapat menghitung 7 level pivot point di atas secara manual, kemudian menambahkannya ke dalam grafik. Ke-7 level ini meliputi 1 level tengah sebagai pivot point (PP), 3 level sebagai resistance (R1, R2, dan R3) dan 3 level sebagai support ( S1, S2, dan S3). Perhitungan nilai pivot beserta level support dan resistennya bisa dilihat di atas.

Ada banyak kalkulator pivot point yang tersedia di internet saat ini, salah satunya seperti yang tampil di bawah ini:

Anda cukup memasukkan tiga angka ke dalam kalkulator, yaitu harga tertinggi (high), harga terendah (low) dan harga penutupan (close) dari hari perdagangan sebelumnya. Klik Hitung, kemudian kalkulator akan menghitung otomatis nilai ketujuh level pivot point hari ini. Setelah level-level tersebut muncul, Anda tinggal menandainya pada grafik. Selain itu, Anda juga bisa mengganti jenis pivotnya ke jenis lainnya seperti Woodie, Camarilla, atau De Mark.
Saat ini, Anda tidak perlu capek-capek lagi menghitung nilai pivot point. Sudah banyak website yang menyediakan nilai pivot point untuk beragam pair forex yang di-update secara berkala. Salah satunya adalah Inbizia yang menampilkan pivot point (standar) dari tiga time frame, yaitu 4 jam (H4), harian (Daily) dan mingguan (Weekly), lengkap tersedia untuk 28 pasangan mata uang (pair). Silakan lihat pada tautan berikut ini.
Klik Untuk Perbesar Gambar
Memadukan strategi trading pivot point dengan price action cukup sederhana. Trading pivot point bisa menggunakan skenario breakout atau reversal (bounce). Kali ini, saya akan berikan contoh cara trading untuk skenario reversal (bounce).
Pertama, tentukan dulu sentimen harganya.
Kedua, tentukan sinyal entry.
Sebagai contoh, kita menggunakan sinyal reversal berupa pin bar untuk memasuki market. Jadi ketika harga membentuk sinyal entry ketika tertahan pada level pivot atau support/resistance, maka posisi entry bisa diambil. Anda juga bisa menggunakan sinyal lainnya seperti pola engulfing atau inside bar.
Ketiga, tentukan skenario entry dan exit.
Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk teman-teman yang ingin mempelajari strategi pivot point untuk trading.
Tidak seperti Moving Average yang menampilkan garis-garis sinyal, Parabolic SAR bisa menunjukkan tren sekaligus cara exit dengan titik-titiknya. Bagaimana cara membaca tren dengan indikator Parabolic SAR.
Dalam bertrading, kita akan disuguhkan berbagai kesulitan yang harus dihadapi. Meraih profit sebanyak-banyaknya bukanlah hal yang bisa didapatkan dalam sekejap mata. Sebagai trader, kita perlu tahu cara open posisi yang tepat.
Salah satu cara untuk open posisi yang benar adalah dengan mengikuti arah trend. Bisa menganalisis arah trend merupakan hal yang sangat menguntungkan dan berguna. Namun kenyataannya, banyak trader yang masih terkecoh dan salah perhitungan.
Mereka bisa saja mengatakan trend harga naik lalu memasang posisi buy. Tapi bagaimana jika harga justru anjlok turun? Salah identifikasi pastinya membuat trader rugi dan memengaruhi psikologisnya.
Mengenali trend memang tidak sederhana, tetapi wajib kita pelajari demi suksesnya trading. Pertanyaan paling mendasar dan yang sering ditanyakan: Bagaimana cara membaca trend? Meskipun rumit, kita bisa membaca trend dengan bantuan indikator, salah satunya adalah indikator Parabolic SAR. Namun sebelum itu, mari pahami dulu esensi indikator pengukur trend dan beragam contohnya.
Banyak trader amatir yang acap kali menganggap dirinya ahli dan percaya diri melawan arus trend. Padahal, jika mau mengikuti arus tren, mereka bisa menghasilkan lebih banyak uang.
Meskipun Anda bukan seorang trend-following sekali pun, mengetahui arah harga dan sisi pasar yang lebih kuat merupakan skill trading yang penting.
Cara paling mudah untuk menganalisis trend adalah dengan memanfaatkan indikator pengukur trend seperti: Bollinger Bands, ADX (Average Directional Index), dan Ichimoku Kinko Hyo.
Bollinger Bands merupakan salah satu indikator teknikal yang diciptakan oleh John Bollinger. Biasanya, indikator ini digunakan untuk mengukur volatilitas harga pasar dan memperkirakan ke mana arah tren bergerak. Pengukuran tren bisa dilihat melalui pita-pita Bollinger yang mana jika pasar sedang ramai, pita Bollinger akan melebar. Sebaliknya, jika pasar sepi atau adem ayem, pita-pitanya akan cenderung merapat atau menyempit.
Berikutnya, Average Directional Index atau singkatnya ADX merupakan indikator teknikal yang digunakan untuk menentukan kekuatan tren. ADX mampu menunjukkan kapan tren dimulai, seberapa besar kekuatannya, hingga waktu melemahnya sebuah tren.
ADX berjalan dengan tiga komponen utama, yakni: garis +DI untuk mengukur kekuatan saat uptrend, garis -DI untuk mengukur kekuatan saat downtrend, dan garis ADX yang merupakan gabungan keduanya yang sudah difilter dengan MA.
Garis-garis ini bekerja dengan menunjukkan seberapa kuat
sinyal tren yang dinilai dengan rentang garis 0-100. Jika garis ADX
berada di atas 50 tandanya tren cukup kuat, sedangkan jika di bawah 20
tandanya tren lemah atau pasar ranging.
Indikator pengukur tren yang ketiga adalah Ichimoku Kinko Hyo. Indikator ini dianggap sebagai indikator teknikal paling kompleks dan sulit dipelajari. Meskipun rumit, Ichimoku terkenal cukup akurat dan bisa memberikan informasi lengkap. Dengan satu indikator, Anda dapat mendapatkan beberapa informasi sekaligus termasuk area support dan resistance, arah tren, momentum, dan sinyal trading. Indikator ini pada dasarnya memanfaatkan lima komponen indikator, yakni Tenkan Sen, Senkou Span A, Senkou Span B, Chikou Span, dan Kijun Sen.
.
Parabolic SAR juga bisa dimanfaatkan sebagai pengukur trend. Indikator teknikal ini dikembangkan oleh J. Welles Wilder untuk mengidentifikasi kapan tren berakhir sehingga trader bisa menemukan potensi pembalikan harga.
Nama Parabolic SAR sebenarnya singkatan dari Parabolic Stop and Reverse, yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai "berhenti dan berbalik". Maka tidak heran jika indikator ini digunakan untuk menentukan tren dan titik di mana harga berbalik arah.
Untuk menggunakannya, Anda tidak perlu repot-repot setting manual karena indikator ini sudah built-in di platform trading online, seperti MetaTrader 4 dan MetaTrader 5. Secara grafis, indikator ini tampil dengan serangkaian titik di bagian atas atau bawah candlestick.
Serangkaian titik inilah yang akan menjadi sinyal guna menetapkan Stop Loss dan Target Profit disamping juga menentukan tren. Jika titik-titiknya muncul di bawah harga saat ini, itu dianggap sebagai sinyal bullish. Sebaliknya, jika titik-titik terbentuk di atas harga saat ini, maka pergerakan sedang bearish.
Titik-titik tersebut akan menunjukkan level tertinggi dan terendah di pasar yang nantinya akan menunjukkan level Stop atau Reverse di chart. Penentuan rumusnya adalah sebagai berikut:
Titik SAR baru = SAR saat ini + AF x (EP saat ini – SAR saat ini)
Sampai di sini, apakah Anda paham dengan dasar-dasar indikator Parabolic SAR? Jika iya, tentunya Anda harus siap dengan plus dan minusnya.
Manfaat menggunakan Parabolic SAR adalah membantu menentukan arah pergerakan harga seperti yang sudah disinggung di atas. Indikator ini akan menghasilkan sinyal yang baik jika digunakan dalam kondisi tren yang kuat. Juga, ketika ada pergerakan melawan tren, indikator memberikan sinyal exit yang cukup bisa diandalkan.
Untuk sisi negatifnya, Parabolic SAR dapat menghasilkan sinyal palsu ketika aksi harga mulai bergerak menyamping atau sideways. Karena kurangnya tren, indikator akan bergerak bolak-balik di area tertentu, sehingga posisi titik-titik Parabolic SAR tidak bisa dijadikan acuan entry maupun exit yang kuat.
Apakah Anda penasaran dengan cara menggunakan indikator yang satu ini? Meskipun terkesan rumit, Anda tidak perlu khawatir jika ingin mencoba menggunakan Parabolic SAR. Jika Anda trading dengan MetaTrader, berikut cara setting indikatornya:
1. Setelah platform terbuka, buka menu 'Insert', pilih 'Trend', kemudian klik 'Parabolic SAR'.

2. Berikutnya, akan muncul jendela Parabolic SAR yang menampilkan dua kolom, yakni 'Step' dan 'Maximum' seperti gambar di bawah ini.

3. Menu 'Step' nantinya akan diisi dengan nilai faktor akselerasi yang sudah Wilder tetapkan, yakni 0.02 yang meningkat secara bertahap hingga nilai maksimalnya 0.20. Arti dari nilai AF/faktor akselerasi adalah jika nilainya makin kecil, maka semakin jauh posisi indikator terhadap harga. Jadi apabila Anda menginginkan sinyal yang lebih responsif, maka pastikan untuk memasukkan nilai 'Step' yang lebih besar dari 0.02.

Di atas, kita sudah sedikit membahas indikator ini akan ditampilkan dengan titik-titik yang muncul di bawah atau di atas candlestick. Serangkaian titik ini merupakan penanda tren market. Sekarang pertanyaannya, bagaimana kita memanfaatkannya untuk memasang posisi trading?
Sesuai dengan konsep dasar trading, hal pertama yang kita lakukan saat ingin open posisi adalah menentukan time frame yang akan digunakan. Menurut Wilder sang pengembang Parabolic SAR, saat ingin open posisi, kita perhatikan dahulu time frame besar.
Sebagai contoh, kita akan trading pair mata uang EUR/USD dengan time frame H1. Dalam hal ini, kita harus membuka time frame D1 terlebih dahulu. Jika titik-titik SAR di time frame D1 berada di bawah harga, itu artinya EUR/USD sedang uptrend. Tandanya, Anda hanya boleh open posisi buy atau Entry saat titik SAR di bawah candlestick. Konsep ini juga berlaku untuk posisi sell. Kita hanya diperbolehkan untuk masuk posisi sell jika tren di time frame yang lebih besar dalam kondisi downtrend.
Klik Untuk Perbesar Gambar
J. Welles Wilder juga memberikan tips lain untuk posisi entry, yakni: tunggulah hingga muncul tiga titik SAR terlebih dahulu sebelum membuka posisi untuk mengurangi kesalahan sinyal palsu.
Selain untuk melakukan Entry, Parabolic SAR juga bisa bisa dimanfaatkan untuk menentukan exit dengan fitur Trailing Stop. Berikut detailnya:

Sekarang, Anda sudah mengetahui apa itu indikator Parabolic SAR dan cara membaca tren dengan indikator tersebut. Selain itu, Anda juga mengetahui bagaimana dasar perhitungannya, apa kekurangan dan kelebihannya, bagaimana mengatur periodenya terbaiknya, dan bagaimana mengartikan sinyalnya untuk trading.
Perlu juga untuk mengingat bahwa indikator ini akan sangat membantu di pasar yang trennya kuat. Apabila pasar sedang sideways atau konsolidasi, jangan gunakan Parabolic SAR untuk membaca sinyal. Anda bisa beralih menggunakan strategi lain yang lebih cocok di pasar sideways, atau memilih untuk tidak masuk pasar sama sekali. Bagaimanapun juga, ada saat-saat yang disebut sebagai waktu trading paling merugikan sehingga Anda lebih baik menghindarinya.
ATR (Average True Range) adalah alat untuk mengukur tingkat volatilitas relatif.
Arti ATR memberitahu kita berapa banyak harga telah berubah pada periode saat ini dibandingkan dengan periode sebelumnya. Ini digunakan dalam strategi tren untuk menilai probabilitas pembalikan tren dan menentukan saat ketika pasar mulai tren. Ini juga berfungsi untuk menempatkan perintah Stop Loss dan Take Profit dan digunakan untuk memperkirakan lebar kisaran saat berdagang berdasarkan strategi saluran.
Indikator disertakan secara default di banyak platform perdagangan dan diterapkan sebagai indikator tambahan yang dikombinasikan dengan Aksi Harga dan osilator.
Indikator analisis teknis dapat dibagi menjadi tiga kelompok:
Indikator tren yang menunjukkan kekuatan dan arah tren;
Osilator yang menunjukkan potensi pembalikan dan membentuk area overbought/oversold;
Indikator perkiraan yang memprediksi pergerakan harga berdasarkan keteraturan sebelumnya.
Indikator Forex ATR sering dianggap sebagai osilator karena membantu kita menentukan titik pembalikan tren. Jika indikator mencakup lebih dari 75% jarak rata-ratanya dalam jangka waktu tertentu, bisa terjadi pembalikan. Tidak seperti osilator, ia tidak memiliki batas "0" dan "100" yang menentukan wilayah overbought dan oversold. Dengan demikian, indikator ATR adalah indikator analisis teknis khusus yang menggabungkan fitur tiga kelompok.
Average True Range pertama kali diperkenalkan oleh J. Welles Wilder pada tahun 1978.
J. Welles Wilder juga mengembangkan alat populer seperti Parabolic SAR dan RSI. Indikator ini pertama kali dimaksudkan untuk pasar berjangka, yang jauh lebih fluktuatif daripada pasar saham. Kemudian menjadi sangat populer sehingga dimasukkan dalam platform perdagangan sebagai platform dasar.
J. Welles Wilder menciptakan indikator ATR untuk satu tujuan: menentukan volatilitas pasar.
Referensi
Volatilitas adalah kisaran harga rata-rata dari nilai tertinggi ke nilai terendah dalam periode waktu tertentu. Jika kisaran meningkat selama jangka waktu tertentu, volatilitas aset tumbuh.
Rata-rata perdagangan rentang sebenarnya jarang diterapkan pada strategi manual, tetapi sering digunakan untuk membentuk sistem manajemen risiko otomatis penasihat perdagangan. Indikator ini tidak mengukur kekuatan tren dan tidak dapat memperkirakan pergerakan harga. Ini hanya memperkirakan volatilitas pasar.
Yang mengatakan, kisaran rata-rata yang sebenarnya adalah alat yang sangat diperlukan untuk menetapkan tingkat laba target, menempatkan stop order, dan menentukan lebar saluran harga dalam strategi saluran dan jangkauan (strategi yang digunakan untuk perdagangan retracement dan breakout).
Indikator ATR TIDAK digunakan untuk:
Menentukan arah harga;
Mencari divergensi;
Kadang-kadang dapat menunjukkan titik pembalikan;
Digunakan untuk mengukur rentang harga dan sifat perubahannya.
Sinyal utama indikator adalah sebagai berikut: ketika indikator tumbuh, volatilitas aset tumbuh. Kesalahan klasik adalah menghubungkan pertumbuhan indikator dengan pertumbuhan harga. Indikator ATR juga tidak menunjukkan arah harga. Ketika tumbuh, garis harga bisa naik atau turun. Ini adalah kisaran volatilitas harga yang meningkat.
Indikator volatilitas ini mengukur volatilitas harga selama periode tertentu. Ini membandingkan:
Harga tertinggi dan terendah;
Candle saat ini, harga tertinggi dan terendah candle saat ini, dan penutupan candle sebelumnya.
Kemudian dibutuhkan yang terbesar dari nilai-nilai itu dan rata-rata berdasarkan rata-rata aritmatika.
Nilai indikator yang relatif rendah dapat dibaca sebagai berikut:
Pasar datar. Harga bergerak dalam kisaran yang sama, dan perbedaan rata-rata antara harga tertinggi dan terendah tidak berubah. Namun, kami tidak dapat memperkirakan lebar rentang menggunakan indikator ATR;
Tren pasar lambat. Harga naik atau turun, tetapi perbedaan antara candle tetangga tidak signifikan.
Sinyal utama indikator adalah peningkatan tajam dalam pembacaannya yang menunjukkan perbedaan yang meningkat pada ekstrem kandil. Tubuh dan bayangan lilin tumbuh, dan sudut kenaikan harga relatif terhadap sumbu horizontal menjadi lebih besar. Pada saat yang sama, kisaran harga mungkin tetap sama. Pertumbuhan volatilitas berarti bahwa harga mencakup jarak yang sama lebih cepat.
Contoh penggunaan ATR:
Ada tren turun kecil di pasar; nilai ATR-nya kecil.
Kemudian, ada percikan volatilitas yang tajam: kisaran harga tumbuh tajam dalam periode waktu yang singkat. Average True Range meningkat tajam. Selanjutnya, tren naik yang lambat dimulai. Meskipun jarak antara awal dan puncak tren beberapa kali lebih besar dari jangkauan segmen volatil, ATR berkurang karena tren telah berkembang selama periode waktu tertentu.
Ada tiga rumus cara menghitung atr:
Perbedaan antara ekstrem lilin saat ini (tinggi dan rendah). Lilin saat ini tinggi kurang rendah.
Nilai absolut dari Max (Tinggi) saat ini dikurangi penutupan sebelumnya. |Tinggi — (Tutup-1)|.
Nilai absolut dari Min saat ini (Rendah) dikurangi penutupan sebelumnya. |Rendah — (Tutup-1)|.
Kemudian kami mengambil nilai terbesar dari itu dan menghitung pembacaan indikator ATR. Berikut rumusnya:
ATR = Moving Average (TR, m)
dimana TR adalah nilai terbesar dari ketiga perbedaan dan m adalah periode rata-rata. Rata-rata bergerak adalah rata-rata aritmatika dari sekumpulan nilai tertentu.
Sekarang mari kita cari tahu bagaimana cara menghitung nilai ATR untuk lebih memahami prinsip kerjanya. Saya mengingatkan Anda bahwa Average True Range adalah nilai terbesar dari berikut ini: arus tinggi dikurangi arus rendah; nilai absolut dari harga tertinggi saat ini dikurangi penutupan sebelumnya; nilai absolut dari harga terendah saat ini dikurangi penutupan sebelumnya. Indikator membandingkan ketiga nilai tersebut untuk dua candle yang berdekatan. Periode adalah jumlah lilin yang dipertimbangkan.
Misalnya, jika nilai periode adalah 1, indikator ATR akan menghitung selisih harga untuk candle terbaru. Ini akan membandingkan Tinggi/Rendahnya, dan perbedaan antara Tinggi/Rendah candle dan penutupan candle sebelumnya. Jadi, dengan periode "1", dua lilin dianggap. Misalnya:
Selisih antara tinggi dan rendah: 1,2121 — 1,2117 = 0,0004, atau empat poin untuk kutipan 4 digit. Itu adalah nilai terbesar dari tiga sisa yang mungkin.
Layar cetak menunjukkan bahwa nilainya identik dengan perhitungan ATR. "0,0004" berarti rata-rata rentang sebenarnya adalah empat poin untuk satu periode candle.
Jika kita mengambil periode 2, tiga lilin terbaru akan dipertimbangkan. Dua nilai untuk lilin pamungkas dan kedua dari belakang dirata-ratakan: keduanya dijumlahkan dan dibagi dua, menurut rata-rata aritmatika.
Semakin lama periodenya, semakin banyak lilin yang dipertimbangkan, dan semakin halus garis indikatornya. Namun, ingat bahwa ATR bereaksi lebih lambat terhadap pergerakan harga saat periode semakin panjang.
Indikator mengidentifikasi momen ketika kisaran harga mulai membesar dengan tajam. Fitur ini dapat digunakan untuk tujuan berikut:
Untuk membentuk strategi jangka pendek. Lonjakan volatilitas yang tajam adalah saat yang tepat untuk scalping.
Untuk memutuskan ke arah mana perdagangan harus dibuka. Jika Average True Range menutupi setengah dari kisaran rata-ratanya, mungkin sudah terlambat untuk membuka perdagangan ke arah tren, dan Anda sebaiknya menunggu pembalikan.
Untuk menentukan target harga. Take Profit ditempatkan pada batas kisaran volatilitas atau dalam kisaran tersebut. Jika Average True Range adalah 60 poin, Take Profit dapat ditetapkan pada 45-50 poin relatif terhadap harga pembukaan.
Untuk menentukan level Stop Loss. Stop Loss ditempatkan di luar kisaran volatilitas harga dan terkait dengan pengganda koreksi ATR. Pengganda koreksi ATR dihitung secara terpisah untuk setiap aset tertentu.
Indikator ATR hanya mendapat satu sinyal: naik atau turun. Semakin tinggi nilai ATR, semakin bergejolak pasar, dan semakin cepat garis tren bergerak dari satu batas rentang ke batas lainnya.
Di segmen 1, indikator bergerak horizontal. Ini berarti pasar datar: amplitudo fluktuasi harga dan ukuran candlestick kecil.
Di segmen 2, nilai ATR melonjak, dan indikator mulai tumbuh. Ini berarti volatilitas meningkat, dan kita harus mencari titik masuk. Karena ATR tidak menunjukkan arah harga, kami akan menentukannya sendiri. Misalnya, tarik level support dan resistance melalui ekstrem kisaran datar dan buka perdagangan dalam arah breakout.
Di segmen 3, masih ada volatilitas tinggi, tetapi trennya berubah arah. Tugas trader adalah menangkap pembalikan garis harga tepat waktu dan membalikkan perdagangan saat volatilitas masih tinggi.
Di segmen 4, indikator kembali ke nilai terendah dalam kisaran datar. Ini berarti volatilitas menurun; laju perubahan harga melambat; amplitudo pergerakan harga menurun; tubuh lilin menjadi lebih pendek dari lilin di segmen 2 dan 3. Itu bisa menunjukkan pasar yang datar atau perlambatan tren. Dalam kasus kami, kami memiliki tren turun yang lambat. Ini adalah sinyal untuk swing-trader dan calo untuk keluar dari pasar.
Inilah cara kita dapat menggunakan sinyal ATR tentang kenaikan volatilitas:
Awal tren baru adalah sinyal untuk membuka perdagangan jangka pendek untuk menangkap pergerakan harga tercepat di kedua arah dalam waktu singkat. Ini adalah salah satu pilihan untuk calo.
Peningkatan tajam dalam amplitudo pergerakan harga adalah sinyal untuk keluar dari pasar atau meningkatkan nilai stop order. Misalkan kita memiliki perdagangan jangka menengah atau panjang, dan nilai stop order dihitung berdasarkan kemungkinan penarikan maksimum, menurut aturan manajemen risiko kami. Kami melihat bahwa volatilitas tumbuh tajam. Kami memiliki dua opsi: untuk menutup perdagangan lebih awal sebelum harga mencapai level stop atau menambah akun kami, meningkatkan nilai stop, dan menunggu penarikan sementara berakhir.
Indikator volatilitas ini tidak menunjuk ke area overbought/oversold, sehingga pembacaannya diperkirakan dibandingkan dengan pembacaan pada periode sebelumnya dengan memperkecil grafik. Tingkat volatilitas tidak bergantung pada arah harga. Garis indikator bisa naik, sedangkan harga bisa bergerak naik atau turun.
Kerangka waktu yang besar biasanya digunakan untuk analisis awal. Kerangka waktu utama dapat berupa H1, dan kerangka waktu yang dianalisis dapat berupa D1.
Contoh: mari kita tentukan volatilitas harian rata-rata untuk USDCAD pada kerangka waktu harian.
Dengan periode 14, nilainya 0,0077. Artinya rata-rata kisaran harga sebenarnya adalah 77 poin selama 14 hari perdagangan terakhir. Beralih ke kerangka waktu H1 dan periksa seberapa jauh harga bergerak sejak pukul 00:00 hingga saat ini:
Harga pembukaan kisaran harian pada pukul 00:00 adalah 1,26799 (dibulatkan menjadi 1,2680); harga saat ini adalah 1,2661. Ada tren turun yang kuat yang dapat dikonfirmasi oleh indikator lain juga. Harga bergerak turun hampir 20 poin, dengan volatilitas rata-rata menjadi 77 poin. Secara teoritis, jika garis harga belum menutupi 50% dari kisaran rata-rata yang sebenarnya, kita dapat membuka perdagangan dalam arah tren. Titik masuk pasar untuk posisi short adalah candle saat ini.
Jika harga sudah menutupi lebih dari 50% ATR, tunggu beberapa saat. Pikirkan tentang membuka perdagangan dalam arah yang berlawanan dari tren jika harga mencakup 70%-80% dari ATR harian. Cara ini bukannya tanpa cela, namun bisa menjadi salah satu pilihan saat menentukan titik masuk pasar dan arah harga.
Indikator Average True Range adalah salah satu indikator dasar di MetaTrader 4 dan MetaTrader 5. Anda dapat menemukannya di menu "Indikator/Osilator".
Pengaturan ATR untuk MT4
Parameter utama adalah Periode. Menggunakan jendela yang sama, Anda dapat mengatur level Maksimum dan Minimum. Itu nyaman untuk membandingkan secara visual volatilitas periode sebelumnya dengan periode saat ini. Menghafal nilai tidak nyaman: lebih mudah untuk mengatur level dan memeriksa penyimpangan dari nilai saat ini dengan menggulir grafik. Grafik hanya akan menampilkan batas waktu yang ditentukan dalam pengaturan.
Anda dapat memperbaiki nilai level di tab "Levels", dan itu akan ditampilkan sebagai garis horizontal di bagan. Misalnya seperti garis merah pada print screen di bawah ini.
Salah satu kelemahan menampilkan indikator di 4 adalah bahwa hanya nilai saat ini yang ditampilkan di sebelah namanya (persegi panjang biru), dan itu tidak akan berubah saat Anda menggulir. Anda dapat meletakkan kursor pada suatu titik dan menunggu jendela pop-up atau mengaktifkan "Jendela Data" (Ctrl+D). Kedua opsi itu tidak nyaman bagi saya.
Tab Visualisasi menunjukkan bagaimana indikator akan ditampilkan pada kerangka waktu yang dipilih. Misalnya, Anda menganalisis grafik pada beberapa kerangka waktu, dan Anda memerlukan ATR pada kerangka waktu harian. Anda mencentang D1, dan indikator akan hilang saat Anda beralih ke kerangka waktu lain.
Ada berbagai modifikasi indikator di Internet. Anda dapat mengunduh Rasio ATR di situs MQL5 (Rasio ATR Jangka Pendek / Jangka Panjang).
Template dapat ditambahkan ke platform. Tolong beritahu saya jika Anda ingin mempelajari lebih lanjut tentang modifikasi dan strategi kerja berdasarkan mereka.
Average True Range paling sering digunakan dalam kasus berikut:
Untuk menentukan level Stop Loss. Tingkat volatilitas menguraikan kisaran pergerakan harga. Batas-batas rentang tersebut dapat menjadi titik acuan.
Untuk menentukan periode datar. Jika nilai ATR rendah jika dibandingkan dengan rata-rata volatilitas, pasar datar.
Untuk mengidentifikasi akhir dari sebuah tren. Semakin jauh garis harga melampaui batas ATR, semakin besar kemungkinan untuk berhenti.
Stop order biasanya ditempatkan di area ekstrem lokal dengan sedikit indentasi. Pertanyaannya adalah bagaimana mengidentifikasi ekstrem lokal dengan benar dan tidak membiarkan noise harga memicu stop order.
Untuk menempatkan stop order menggunakan ATR, kita perlu melakukan hal berikut:
Gambarkan level support dan resistance melalui ekstrem yang paling jelas pada kerangka waktu yang singkat (М5-М15).
Tambahkan/kurangi 2*ATR ke/dari nilai harga ekstrem tertinggi candle. Nilai yang Anda dapatkan adalah level Stop Loss. Pengganda "2" harus disesuaikan untuk setiap pasangan tertentu. Direkomendasikan minimal 1,5 ATR. Pengganda Stop Loss ATR terbaik untuk kerangka waktu mulai dari H1 adalah "3".
Ada metode yang berbeda: tempatkan stop order pada level saat membuka perdagangan. Kurangi atau tambahkan beberapa poin dari nilai tersebut untuk penyaringan. Untuk menempatkan Take Profit, beralihlah ke kerangka waktu yang lebih besar dan periksa level instrumen di sana.
Metode ini bekerja paling baik pada kerangka waktu singkat dengan noise harga — pergerakan garis harga yang kacau dan tak terduga di kedua arah. Menggunakan indikator memungkinkan kita untuk menempatkan stop order pada tingkat yang aman, memberikan noise harga.
Contoh:
Selama tren turun, tarik level resistensi untuk membuka perdagangan setelah penebusannya, dikonfirmasi oleh polanya. Buka posisi long pada pullback. Harga minimum — 1.19588, ATR — 0,0005 atau lima poin. Kalikan 0,0005 dengan dua dan kurangi nilainya dari harga minimum. Anda akan mendapatkan level Stop Loss 1.19488. Seperti yang ditunjukkan layar cetak, garis harga tidak sampai ke level itu. Ini menguji level 1,19516 dan kemudian berbalik ke atas.
Anda memperoleh penghasilan dari pasangan mata uang yang sedang tren dengan volatilitas harian sedang sebesar 80 poin. Saya mendapatkan nomor ini menggunakan kalkulator volatilitas. Jika volatilitas saat ini kurang dari 50% dari kisaran itu, pasar dapat dianggap datar. Jadi, jika nilainya kurang dari 40 poin, kami tidak mencari titik masuk menggunakan strategi tren karena arah kutipan mana pun tidak akan bertahan lama.
Sulit untuk mengatakan apakah masuk akal untuk mengikuti skema itu. Pertama, nilai 50% bersifat konvensional dan harus disesuaikan kembali untuk setiap pasangan tertentu. Kedua, pasar bisa menjadi tren pada kerangka waktu yang lebih kecil.
Kelemahan instrumen ini adalah kelambatan, yang berlaku untuk semua rata-rata bergerak. Semakin lama periode, semakin tidak sensitif instrumen terhadap perubahan harga saat ini. Misalnya, jika Anda menetapkan periode pada 50, indikator akan mempertimbangkan 50 kandil terakhir. Jika harga berubah tajam pada dua atau tiga candle terakhir, perubahan tersebut akan diserap oleh nilai candle sebelumnya. Di sisi lain, kerangka waktu yang singkat dapat menghasilkan banyak sinyal palsu. Jadi, semua minus rata-rata bergerak juga khas di sini.
Contoh:
Rata-rata volatilitas EURUSD selama seminggu terakhir adalah 44,25 poin.
Nilai ATR saat ini pada kutipan 4 digit adalah 61 poin pada grafik harian. Karena volatilitas saat ini lebih tinggi dari rata-rata, pasar tidak datar, dan tren saat ini sedikit lebih kuat daripada tren mingguan.
Semakin besar amplitudo gelombang indikator relatif terhadap nilai sebelumnya, semakin besar kemungkinan garis harga akan berbalik arah.
Contoh:
Nilai ATR yang relatif rendah tidak bisa dikatakan jika ada trend pada daily chart. Ada tren naik, tetapi kecepatannya sangat lambat sehingga Average True Range tidak dapat mengidentifikasinya.
Pertumbuhan tajam indikator menunjukkan bahwa volatilitas pasar meningkat: sudut kenaikan harga meningkat, dan harga berubah lebih cepat. Trader hanya perlu memprediksi arah tren.
ATR mencapai maksimum dan reversing berarti volatilitas sudah mulai turun. Perhatikan bahwa tren berubah arah saat garis indikator tumbuh. Biarkan saya mengingatkan Anda bahwa Average True Range tidak menunjukkan arah harga; itu hanya menunjukkan kecepatan perubahan harga relatif. Kembalinya indikator ke posisi terendah saat ini berarti bahwa kecepatan perubahan harga menurun: pasar menjadi datar atau tren lebih lambat.
Ada cara lain untuk mengidentifikasi titik pivot. Nilai rentang rata-rata sebenarnya dibandingkan dengan jarak yang telah ditempuh harga dari awal kerangka waktu hingga saat ini. Kerangka waktu yang lebih pendek digunakan untuk perbandingan.
Contoh. Mari kita ambil 100% nilai ATR H1, yang menunjukkan kisaran sebenarnya rata-rata pergerakan harga selama satu jam terakhir. Kemudian beralih ke kerangka waktu satu menit dan temukan di mana kerangka waktu H1 saat ini dimulai. Perkirakan jarak harga yang ditempuh hingga saat ini.
Jika garis harga bergerak lebih jauh dari 70%, pembalikan kemungkinan besar akan terjadi. Pikirkan tentang membuka posisi yang berlawanan.
Jika garis harga menutupi kurang dari 30% dari jarak, pikirkan tentang membuka perdagangan dalam arah tren.
Jika jaraknya bervariasi dari 30% hingga 70% dari jangkauan, luangkan waktu Anda.
Nilai-nilai itu hanyalah titik referensi. Mereka khusus untuk setiap aset tertentu.
Trading pada beberapa kerangka waktu menggunakan level dan ATR. Sebagian besar strategi telah dijelaskan di atas. Saya akan menunjukkan cara menggunakannya dalam praktik.
Buka GBPUSD grafik harian dan periksa trennya.
Grafik menunjukkan tren yang kuat dan stabil yang dimulai setelah penurunan dramatis. Perhatikan lonjakan ATR yang tajam selama tren turun: seseorang bisa mendapat untung dari posisi short di sana. Tren naik yang mulus berlanjut; ada beberapa lilin yang tumbuh berurutan dengan tubuh kecil. ATR menunjukkan tidak ada volatilitas yang kuat. Itu berarti harga diperkirakan akan terus naik dengan lancar. Nilai ATR adalah 92 poin.
Kemudian beralih ke grafik M15 dan periksa berapa banyak poin yang telah ditutup harga sejak pembukaan harian.
Harga pembukaannya adalah 1,38988 pada pukul 00:00. Pada pagi hari, harga naik hampir 55 poin dan kemudian kembali lagi. ATR menunjukkan volatilitas yang tinggi. Karena kisaran harian adalah 92 poin dan harga tidak jauh dari awal, kita dapat berasumsi bahwa tren naik akan berlanjut.
Ringkasnya: kami memutuskan untuk membuka posisi panjang karena:
Ada tren naik yang lambat dengan volatilitas rendah pada kerangka waktu harian.
Kerangka waktu M15 menunjukkan level resistensi dari mana harga baru saja ditarik kembali ke atas.
Harga telah menutupi hampir 50% dari volatilitas hariannya dan sebagian terkoreksi kembali ke titik awal kisaran harian.
Jadi, saya membuka perdagangan di 1.39236 (hampir 25% dari kisaran harian sama dengan 92 poin). Stop Loss: ATR*2 saat ini, yang setara dengan 14 poin. Pengganda 3 mungkin akan lebih baik: Stop Loss akan ditempatkan sedikit di bawah harga pembukaan 1,38988. Take Profit: 75% dari ATR harian.
Volume posisi harus ditentukan secara individual dan tergantung pada tujuan dan deposit Anda.
Tutup perdagangan berdasarkan Take Profit atau ketika pola pembalikan yang jelas muncul. Saya tidak berpikir itu akan muncul sebelum ATR harian mencapai 50%. Target keuntungan adalah 5 USD.
Setiap orang memiliki target keuntungan mereka sendiri, tetapi saya akan merekomendasikan bahwa pedagang pemula tidak harus menunggu Take Profit untuk memicu dan harus memperbaiki keuntungan saat ini pada pembalikan pertama.
Jika Anda melihat bahwa harga tidak dapat menentukan arahnya selama periode volatilitas tinggi, seperti dalam situasi ini, tutup perdagangan. Harga penutupan: 1.39385. Keuntungan dalam 2,5 jam: sekitar 15 poin dikurangi spread.
Targetnya adalah mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya berdasarkan teori ATR. Saya tidak terburu-buru untuk menutup perdagangan, dan saya menahannya. Akibatnya, ditutup pada Stop Loss di minus 1,51 USD. Analisis pasar mengungkapkan kesalahan. Volatilitas pasar masih tinggi, tetapi ada pergeseran tren yang jelas. Panah di layar cetak di bawah ini menandai titik pembukaan.
Kandil harian turun. Jadi, saya membuka counter trade menggunakan prinsip yang sama: harga pembukaan pada pukul 00:00 (1.38988) menandai awal dari kisaran volatilitas, tetapi trennya turun sekarang. Volumenya bisa dua kali lipat.
Saya membutuhkan waktu 30 menit untuk memulihkan kerugian dari perdagangan sebelumnya dan mendapatkan 0,5 USD. Saya memperbaiki keuntungan dari perdagangan kedua karena alasan psikologis: untuk menutupi kerugian sebelumnya.
Indikator ATR menunjukkan pergeseran volatilitas saat ini. Namun, contoh membuktikan bahwa harga bisa berubah arah dalam beberapa jam. Itu bisa digunakan dalam strategi Swing trading.
Untuk menghitung Stop Loss untuk jangka waktu yang singkat, sebaiknya kita menggunakan pengganda yang sama dengan atau kurang dari 2. Saya terbuka untuk diskusi lebih lanjut mengenai masalah ini.
Ada dua strategi keluar pasar. Yang pertama menyarankan keluar pada pembalikan tren pertama. Yang lainnya menyiratkan menggunakan Take Profit yang dihitung berdasarkan ATR. Jika perdagangan belum ditutup pada akhir hari, tutup secara manual. Jika perdagangan ditutup pada Stop Loss, cobalah untuk membuka posisi counter.
Anda dapat menggunakan hedging atau Trailing Stop.
Trailing Stop Loss adalah perintah Stop Loss yang mengikuti harga ke arah perdagangan dan tetap pada level yang diambil jika harga berbalik.
Volatilitas diukur hanya dengan kisaran harga selama jangka waktu tetap. Harga bisa bergerak ke segala arah. Jika kita membuka perdagangan dan menempatkan perintah Stop Loss reguler ketika harga berada di luar kisaran datar, kita dapat memiliki skenario berikut: harga mencapai batas kebalikan dari kisaran volatilitas dengan cepat dan kembali. Berikut contohnya pada print screen di bawah ini.
Average True Range mulai tumbuh, dan kita bisa membuka posisi long di poin 1. Jika trader mengincar grafik sepanjang waktu, dia akan menutup trading berdasarkan pola di poin 2. Jika dia melewatkan momen itu, dia akan kehilangan keuntungan dan membuat kerugian di poin 3. Harga akan melewati seluruh rentang volatilitas dan mundur dalam beberapa jam.
Menggunakan ATR Trailing Stop memungkinkan kita untuk memperbaiki setidaknya beberapa bagian dari keuntungan dan menghindari penutupan perdagangan pada kerugian selama volatilitas tinggi. Secara teoritis, nilai Trailing stop adalah ATR*k, di mana "k" adalah pengganda volatilitas yang diatur secara manual. Paling sering, ini adalah "2", "2,5" atau "3": semakin tinggi kerangka waktu, semakin besar penggandanya.
Contoh yang sama: posisi buy dibuka pada 1,26776 di poin 1 dan diamankan dengan Trailing Stop yang ditetapkan pada 2*0,0006, yaitu 12 poin, yang sama dengan nilai ATR yang terdaftar pada pembukaan perdagangan. Jika perdagangan diamankan dengan Trailing Stop, itu akan ditutup secara otomatis di poin 2. Jika kami mengurangi spread, keuntungan akan menjadi sekitar 15-17 poin pada kutipan 4 digit dalam dua jam. Tanpa Trailing Stop, perdagangan akan ditutup pada kerugian 12 poin plus spread.
Cara mengatur Trailing Stop di platform LiteFinance:
Atur ukuran perdagangan dan buka dalam satu klik.
Buka menu "Portofolio" di bagian bawah platform Anda dan klik "Edit".
Setel Trailing Stop di jendela yang terbuka.
Aplikasi instrumen ke pasar saham adalah sama. Average True Range memperkirakan aktivitas perdagangan dan minat investor pada suatu saham. Jika nilai indikator tumbuh, volatilitas dan volume perdagangan juga meningkat. Jika nilainya rendah, pasarnya datar. Selain ATR, Anda dapat menggunakan indikator volume atau kedalaman pasar (DOM) di MT5 untuk memeriksa level support dan resistance yang kuat.
Indikator ini bahkan lebih berguna ketika laporan keuangan, siaran pers, atau statistik lainnya diterbitkan. Ini membantu kita untuk melihat:
Reaksi pasar - seberapa cepat dan keras pasar bereaksi terhadap berita.
Tingkat volatilitas pasar mengenai kejadian tertentu yang layak diberitakan; jenis berita apa yang memicu reaksi pasar yang lebih kuat.
Tingkat volatilitas: berapa lama periode volatilitas tinggi berlangsung setelah statistik dirilis.
Korelasi: rilis mana yang saling terkait? Misalnya, apakah laporan keuangan Apple akan mempengaruhi keputusan harga perusahaan teknologi lain?
Bantuan penting lainnya adalah kalender Ekonomi dan kalender keuangan. Cobalah dan gunakan ATR pada Tesla (TSLA) grafik, misalnya.
Average True Range memiliki beberapa kelemahan juga:
Area aplikasi yang terbatas. Itu tidak menunjukkan arah harga atau memberikan perkiraan. Ini hanya memperkirakan tingkat volatilitas umum dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Tertinggal. Rumus rentang sebenarnya rata-rata spesifik. Volatilitas dapat mulai tumbuh, tetapi nilai indikatornya akan tetap rendah. Lagging bisa bertahan di 1-2 kandil.
Meskipun ATR termasuk dalam kelompok osilator, paling baik diterapkan dalam kombinasi dengan Stochastic, MACD, dan osilator lainnya. Juga, periode pendek akan bekerja lebih baik: periode 12-14 optimal pada kerangka waktu H1.
Indikator
volatilitas diperlukan untuk perdagangan profesional. Itu tidak cukup
informatif bagi pedagang pemula untuk menghargainya lebih dari alat
lain. Namun demikian, perlu disebutkan karena beberapa mungkin
memerlukannya untuk mengembangkan strategi perdagangan mereka.
Bagi Anda seorang trader forex, pastinya Anda sudah tidak akan asing lagi dengan nama fibonacci retracement, bukan?
Fibonacci menjadi salah satu indikator populer baik di kalangan trader forex maupun komoditi karena alat analisis ini dapat memberikan sebuah informasi semacam level support/resistance yang tidak dimiliki oleh indikator forex lainnya.
Cara menggunakan fibonacci retracement sendiri cukup mudah. Indikator ini akan menyorot area di mana pullback dapat berbalik arah menuju ke arah trend, dan kemudian membantu mengkonfirmasi entry point jika menggunakan strategi trading trend.
Secara umum, fibonacci membantu trading dengan mengisolasi pullback saat akan berakhir. Dengan memanfaatkan situasi seperti ini, Anda akan mendapat perkiraan entry point untuk segera mengambil peluang.
Perhitungan rasio ini menghasilkan angka-angka yang dapat membantu Anda dalam menentukan level entry dan exit.
Meski bisa berdiri sendiri, pada dasarnya fibonacci dapat digabungkan dengan indikator lainnya untuk memberikan hasil yang maksimal.
Namun, sebelum memulai pembahasan yang lebih jauh mengenai penggunaan indikator fibonacci retracement ini, mari kita simak terlebih dahulu sejarah dari pencetus dari tools trading paling populer ini.

Leonardo da Pisa atau yang lebih dikenal dengan nama Leonardo Fibonacci, merupakan seorang matematikawan asal Italia yang menemukan bilangan Fibonacci. Ia juga terkenal karena perannya dalam mengenalkan sistem penulisan dan perhitungan bilangan Arab (algoritma) ke dunia Eropa.
Ayahnya bernama William lebih sering dikenal sebagai Bonacci, maka dari itu Leonardo memiliki julukan Fibonacci yang berasal dari kata Filius Bonacci yang artinya anak dari Bonacci.
Fibonacci banyak menulis buku dimana salah satu yang terkenal dan menjadi tonggak awal penggunaan angka Arab adalah "Liber Abaci". Pada bab 12 buku tersebut, terdapat sebuah permasalahan yang mampu mengusik akal sehat matematikawan mengenai masalah kelinci beranak-pinak.
Untuk menjawab pertanyaan sederhana ini, diperlukan ketelitian dan kejelian lebih untuk berpikir.
“Berapa banyak pasang kelinci yang beranak pinak selama satu tahun bila diawali dengan sepasang kelinci (jantan dan betina) dan kelinci tersebut tumbuh jadi dewasa dan kawin setelah mereka berumur satu bulan, sehingga setiap bulan kedua, masing-masing kelinci betina selalu melahirkan sepasang kelinci baru?”
Dari hasil permasalahan ini, Fibonacci akhirnya memperkenalkan deret angka 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, dst., dimana rasio ini terdapat dalam proporsi bentuk-bentuk di alam dan menjadi dasar terbentuknya bilangan Fibonacci ini.
Kemudian, pada deret tersebut ditemukan rasio yang cukup sering ditemui pada setiap bentuk benda yang ada di alam ini, dimana rasio 1:1.618 atau 0.618:1 lebih dikenal dengan istilah Golden Ratio.
Tidak sedikit dari para trader pada akhirnya menggunakan rasio fibonacci ini sebagai alat ukur untuk mendapatkan area-area yang bisa dijadikan sebagai acuan untuk mengambil posisi yang "berpotensi menghasilkan keuntungan" dalam trading mereka.
Lalu, bagaimana cara menggunakan fibonacci dalam trading forex?
Untuk menggunakan tools ini, Anda tidak perlu menjadi seorang matematikawan untuk dapat menghitung rasio fibonacci pada setiap transaksi trading yang akan dilakukan.
Dengan menggunakan indikator fibonacci retracement ini, Anda bisa menentukan kisaran area yang berpotensi sebagai support dan resistance dengan cukup mudah.
Selain itu, fibonacci retracement juga bisa dimanfaatkan dengan baik saat pasar sedang dalam keadaan trending, baik di posisi uptrend maupun downtrend. Namun indikator ini akan menjadi kurang efektif jika diterapkan pada pasar yang sedang dalam kondisi sideways.
Untuk bisa menemukan level-level fibonacci, Anda harus terlebih dahulu menemukan titik-titik tertinggi dan terendah yang signifikan. Titik-titik tersebut kita sebut sebagai swing high dan swing low.
Pada pergerakan pasar di saat uptrend, yang perlu Anda lakukan adalah menarik fibonacci retracement dari swing low ke swing high seperti yang bisa Anda lihat pada contoh gambar dibawah ini.

Sebaliknya jika pergerakan harga saat itu berada di posisi downtrend, yang perlu Anda lakukan adalah menarik Fibonacci retracement dari swing high ke swing low yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Ada enam (6) level fibonacci retracement yang perlu Anda ketahui, yaitu:
Beberapa level inilah yang dijadikan sebagai area acuan atau referensi oleh para trader dalam menentukan area support dan resistance. Diantara level tersebut, level fibonacci yang cukup populer adalah level 38.2%, 50%, dan 61.8%.
Di kisaran salah satu dari ketiga level tersebut, seringkali memunculkan sinyal buy atau sell dengan tingkat akurasi yang cukup tinggi.
Ada fakta menarik di balik Level 50%. Level ini sebenarnya bukan berasal dari rasio Fibonacci, namun banyak trader sering memperhatikan level ini.
Mengapa demikian?
Karena pergerakan harga pada level tersebut memiliki kecenderungan untuk melanjutkan ke suatu arah tertentu setelah melewatinya.
Jika harga tembus level 50% mengarah ke atas, maka reli harga kemungkinan akan sampai level 0.0%. Sebaliknya, jika harga berhasil menerobos level 50% ke arah bawah, maka kemerosotan harga kemungkinan akan berlanjut hingga level 100.0%.

Strategi seperti ini mirip dengan bounce trading. Anda menunggu pullback hingga ke area referensi dan mencari apakah ada konfirmasi sinyal buy atau sell.
Bounce dalam trading forex adalah momen ketika harga memantul setelah mendekati batas support atau resistance.
Jika Anda masih pemula dan belum mempelajari sinyal buy maupun sell lebih dalam, Anda bisa menggunakan fibonacci Retracement untuk membantu membaca pergerakan harga. Ketika pergerakan harga tertahan di area referensi tersebut, maka Anda bisa mencoba untuk melakukan sell atau buy.
Lalu, bagaimana cara mengaplikasikan strategi buy ataupun sell dengan menggunakan fibonacci? Mari kita lihat terlebih dahulu cara kerja fibbonaci pada strategi buy berikut ini.

Pada grafik tersebut, Anda telah memiliki gambaran indikator fibonacci dengan acuan swing low di 1.59445 (100.0%) dan swing high di 1.60630 (0.0%). Area berwarna kuning menjadi area referensi Anda.
Di area ini, Anda dapat mencoba mencari konfirmasi pantulan yang merupakan sinyal buy di mana pada area ini terdapat tiga level retracement, yaitu:
Ketiga level tersebut menjadi support saat Anda menunggu harga masuk ke area referensi. Level terbaik untuk buy berada di sekitar 61.8%. Namun, ada kalanya Anda akan mendapatkan konfirmasi pantulan di sekitar 50.0%.
Lalu, di manakah level paling cocok untuk Anda bisa mengambil posisi buy? Coba perhatikan secara lebih detail grafik ini!

Seperti yang terlihat pada grafik diatas, pergerakan harga berkali-kali mencoba menembus level 1.59898 (61.8%). Terlihat dari level tersebut di mana pengujian sudah dilakukan sebanyak empat kali, namun candlestick selalu ditutup di atas 1.59898.
Ini menjadi pertanda bahwa support cukup kuat di area tersebut, dan saatnya Anda melakukan pembelian di sekitar 1.60038 (50%). Targetnya adalah level 1.60630 (0.0%), sementara untuk antisipasi berada di exit point (1) atau exit point (2).
Exit point berfungsi untuk mengantisipasi jika pasar berkehendak lain dan berlawanan dengan perkiraan Anda.
Seringnya pergerakan harga menembus level 76.4% menjadi indikasi awal bahwa arah trend akan berubah, sehingga beberapa trader cenderung memilih untuk bermain aman dengan melepas posisi mereka setelah level tersebut tembus (break).
Namun, konfirmasi perubahan arah trend (reversal) sebenarnya berada pada level 100.0%, sehingga para trader yang lebih berani memilih tembusnya level tersebut sebagai exit point mereka.
Selain itu, hal penting yang perlu Anda ingat adalah tidak ada analisa teknikal yang 100% benar. Oleh karena itu, penting untuk Anda mempelajari manajemen modal dan risiko.
Perpaduan antara ketiga hal ini akan menjadi senjata ampuh dalam trading Anda.

Jika Anda melihat pergerakan harga pada grafik tersebut menurun, maka ini menjadi waktu yang tepat untuk Anda melepas posisi buy pada salah satu dari kedua level tersebut.
Anda akan melihat GBP/USD naik dan target Anda tercapai!
Setelah Anda memahami penggunaan indikator fibonacci retracement untuk strategi buy dalam trading forex ini, sekarang saatnya bagi Anda untuk mengetahui penggunaannya dalam strategi sell berikut ini.
Untuk melihat cara menggunakan indikator fibonacci pada strategi ini, Anda dapat melihat contoh pergerakan harga pada grafik EUR/USD di bawah ini!

Pada grafik ini, Anda akan menunggu terjadinya pullback ke area referensi sell yang berada di kisaran antara 1.37461 (38.2%) hingga 1.38995 (61.8%). Dilanjutkan pada area tengah di mana level 50.0% berada pada level 1.38228. Ketiga level tersebut disebut sebagai level resistance.

Pada saat pull back telah terjadi, Anda bisa melihat bahwa harga telah berada di dalam area referensi.
Perhatikan pada grafik tersebut, harga tidak mampu menembus ke atas level 1.38995 (61.8%), bahkan menurun dan menembus ke bawah level 1.38228 (50.0%).
Ini sinyal baik, Anda diperbolehkan untuk melakukan sell dengan target di level 1.34980 (0.0%). Jangan lupa untuk melakukan antisipasi dengan target di exit point (1) atau (2) jika seandainya perkiraan Anda salah.
Jika
Anda melihat pergerakan harga pada grafik tersebut mengalami kenaikan,
maka ini menjadi waktu yang tepat untuk Anda melepas posisi sell pada
level tersebut.
Dalam menggunakan indikator fibonacci retracement ini, tidak sedikit trader yang melakukan kesalahan dalam menentukan swing high dan swing low.
Sebagai catatan, Anda perlu mengamati dengan jeli dan melakukan latihan di akun demo untuk mengasah ketajaman Anda dalam mengenali dua posisi ini. Selain itu, diperlukan kesabaran lebih untuk menanti konfirmasi di area referensi agar dapat mempraktekkan teori ini dengan baik.
![]() |
| Indikator Ichimoku Kinko Hyo |
![]() |
| Cara Menggunakan Indikator Ichimoku Kinko Hyo |
![]() |
| Aplikasi Indikator Ichimoku Kinko Hyo |
Siapa yang tidak kenal dengan Stochastic?
Di kalangan trader, Stochastic Oscillator menjadi salah satu indikator yang populer hingga saat ini di kalangan trader termasuk pemula karena mudah dimengerti dan digunakan.
Stochastic Oscillator dapat memberi petunjuk kapan waktu terbaik untuk trader harus membeli ataupun menjual.
Walaupun tidak menawarkan akurasi 100%, tentu saja Anda masih dapat meningkatkan akurasi indikator tersebut dengan cara mengkombinasikannya dengan indikator yang lain, atau mengkombinasikannya dengan manajemen modal (money management) yang tepat.
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai indikator ini, mari kita lihat sedikit sejarah terciptanya Indikator Stochastic ini!
Tentu saja, indikator ini tidak diciptakan hanya dalam hitungan satu malam. Terciptanya indikator ini bermula saat George Lane mengalami kesulitan dalam membaca chart trading yang begitu kompleks.
Setelah ia mengetahui mengapa dan bagaimana harga bergerak, George Lane mulai menciptakan indikator sederhananya sendiri untuk mengenali trend pasar.
George Lane menghabiskan waktu hingga bertahun-tahun untuk mempelajari trend pasar secara konsisten dan menciptakan analisa trading yang dapat mempermudah trader saat menentukan kapan harus masuk dan keluar pasar berdasarkan kondisi overbought dan oversold.
Hasil pengamatan inilah yang kemudian dirumuskan dan direalisasikan menjadi indikator Stochastic di mana indikator ini dapat membantu trader untuk menghasilkan profit dengan cukup baik.
Pada indikator ini, Anda bisa melihat adanya duа garis dаlаm osilator уаng sering disebut sebagai garis %K untuk warna biru dаn garis %D untuk warna merah yang biasanya ditampilkan sebagai garis putus-putus seperti gambar di bawah ini!

Tentu saja, warna pada gambar ini nantinya dapat diganti sesuai selera untuk memudahkan Anda membedakan mana yang %K dan mana yang %D.
Oleh karena itu, diperlukan ketelitian lebih untuk Anda harus menerjemahkan sinyal buy maupun sell dari Stochastic saat market trending dan menggunakannya sebagai referensi asalkan sinyal yang muncul harus searah dengan trend yang sedang berlangsung.
Jadi pada saat downtrend, Anda bisa mencari sinyal sell dan sebaliknya pada saat uptrend, Anda bisa mencari sinyal buy.

Gambar 1: Posisi Down Trend

Gambar 2: Posisi Up Trend
Cara sederhana untuk menggunakan Indikator ini bisa terlihat saat posisi uptrend, di mana Anda bisa melakukan buy dan melakukan sell pada saat posisi downtrend.
Selain berfungsi sebagai informasi overbought dan oversold, Stochastic dapat membantu trader untuk menemukan mencari bullish divergence dan bearish divergence.
Bullish merupakan kecenderungan harga untuk bergerak naik secara terus menerus dalam suatu periode waktu tertentu.
Dalam trading forex, pasar bullish sering disebut sebagai uptrend yang akan terjadi bila base currency dalam suatu pasang mata yang mengalami kenaikan nilai. Biasanya, kondisi ini terjadi karena faktor fundamental ekonomi suatu negara.
Berbeda dengan Bullish, Bearish merupakan kecenderungan harga untuk bergerak turun secara terus menerus dalam suatu periode waktu tertentu.
Kondisi ini biasa sering disebut downtrend yang akan terjadi bila base currency dalam suatu pasang mata uang mengalami pelemahan nilai.
Kira-kira bagaimana cara kerja dari pola ini?
Anda bisa memperhatikan gambar bullish divergence dibawah ini dengan menggunakan stochastic pada grafik AUD/USD!

Gambar 3: Bullish Divergence
Cara kerja dari pola ini pun mirip dengan mencari pola divergence pada CCI. Bullish divergence akan memperoleh konfirmasi ketika stochastic naik melampaui level 50.

Gambar 4: Bearish Divergence
Berbeda dengan Bullish Divergence, pada bearish divergence yang terlihat pada grafik AUD/USD di atas konfirmasi pola ini adalah ketika stochastic turun melewati level 50.
Cukup Mudah bukan? Hal penting yang perlu Anda miliki untuk mempergunakan indikator ini adalah memperbanyak latihan dengan mengamati Stochastic.